Rabu, 20 Mei 2015

Kedatangan Tentara Sekutu Diboncengi oleh NICA

0


Semenjak Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 secara hukum tidak lagi berkuasa di Indonesia. Pada tanggal 10 September 1945 Panglima Bala Tentara Kerajaan Jepang diJawa mengumumkan bahwa pemerintahan akan diserahkan kepada Sekutu dan tidak kepada pihak Indonesia. Pada tanggal 14 September 1945 Mayor Greenhalgh datang di Jakarta. la merupakan perwira Sekutu yang pertama kali datang ke Indonesia. Tugas Greenhalgh adalah mempelajari dan melaporkan keadaan di Indonesia menjelang pendaratan rombongan Sekutu.Pada tanggal 29 September 1945 pasukan Sekutu mendarat di Indonesia antara lain bertugas melucuti tentara Jepang. Tugas ini dilaksanakan Komando Pertahanan Sekutu di Asia Tenggara yang bernama South East Asia Command (SEAC) di bawah pimpinan Lord Louis Mountbatten yang berpusat di Singapura. Untuk melaksanakan tugas itu, Mountbatten membentuk suatu komando khusus yang diberi nama Allied
Forces Netherland East Indies (AFNEI) di bawah Letnan Jenderal Sir Philip Christison.
Adapun tugas AFNEI di Indonesia adalah :
1. menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang;
2. membebaskan para tawanan perang dan interniran Sekutu;
3. melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian dipulangkan;
4. menegakkan dan mempertahankan keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah sipil; dan
5. menghimpun keterangan dan menuntut penjahat perang.

Pasukan AFNEI mulai mendarat di Jakarta pada tanggal 29 September 1945 yang terdiri dari tiga divisi yaitu :
1. Divisi India ke-23, di bawah pimpinan Mayor Jendral D.C. Hawthorn yang bertugas untuk daerah Jawa Barat;
2. Divisi India ke-5, di bawah pimpinan Mayor Jenderal E.C. Marsergh yang bertugas untuk daerah Jawa Timur;
3. Divisi India ke-26, di bawah pimpinan Mayor Jenderal H.M. Chambers yang bertugas untuk daerah Sumatra.
Pasukan-pasukan AFNEI hanya bertugas di Sumatera dan Jawa, sedangkan untuk daerah Indonesia lainnya diserahkan tugasnya kepada angkatan perang Australia.

Pada mulanya kedatangan Sekutu disambut dengan senang hati oleh bangsa Indonesia. Hal ini karena mereka mengumandangkan perdamaian. Akan tetapi, setelah diketahui bahwa Sekutu secara diam-diam membawa orangorang Netherland Indies Civil Administration (NICA), yakni pegawai-pegawai sipil Belanda maka bangsa Indonesia curiga dan akhirnya menimbulkan permusuhan.

Kedatangan Belanda (NICA) Berupaya untuk Menegakkan Kembali Kekuasaannya di Indonesia
NICA berusaha mempersenjatai kembali KNIL (Koninklijk Nerderlands Indisch Leger, yaitu Tentara Kerajaan Belanda yang ditempatkan di Indonesia). Orang-orang NICA dan KNIL di Jakarta, Surabaya dan Bandung mengadakan provokasi sehingga memancing kerusuhan. Sebagai pimpinan AFNEI, Christison menyadari bahwa untuk kelancaran tugasnya diperlukan bantuan dari Pemerintah Republik Indonesia. Oleh karena itu diadakanlah perundingan dengan pemerintah RI. Christison mengakui pemerintahan de facto Republik Indonesia pada tanggal 1 Oktober 1945. la tidak akan mencampuri persoalan yang menyangkut status kenegaraaan Indonesia. Dalam kenyataannya pasukan Sekutu sering membuat hura-hara dan tidak menghormati kedaulatan bangsa Indonesia. Gerombolan NICA sering melakukan teror terhadap pemimpin-pemimpin kita. Dengan demikian bangsa Indonesia mengetahui bahwa kedatangan Belanda yang membonceng AFNEI adalah untuk menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia. Oleh karena itu bangsa kita berjuang dengan cara-cara diplomasi maupun kekuatan senjata untuk melawan Belanda yang akan menjajah kembali. Konflik antara Indonesia dengan Belanda ini akhirnya melibatkan peran dunia intemasional untuk menyelesaikannya.

Peran Dunia Internasional dalam Penyelesaian Konflik Indonesia-Belanda
1. Peranan Perserikatan Bangsa-Bangsa
Masuknya kembali Belanda ke Indonesia dengan membonceng Sekutu ternyata berakibat konflik yang
berkepanjangan antara Indonesia dengan Belanda. Untuk itu bangsa Indonesia berjuang dengan cara diplomasi maupun kekuatan senjata. Pada tanggal 25 Maret 1947 Indonesia dan Belanda menandatangani Persetujuan Linggajati. Meskipun persetujuan Linggajati ditandatangani, namun hubungan antara
Indonesia dengan Belanda semakin memburuk. Belanda melakukan pelanggaran terhadap persetujuan Linggajati maupun perjanjian gencatan yang diadakan sebelumnya dengan melancarkan agresi militer terhadap pemerintahan Indonesia pada tanggal 21 Juli 1947. Kota-kota di Sumatera maupun Jawa digempur dengan pasukan bersenjata lengkap dan modern. Pada tanggal 29 Juli 1947 Pesawat Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan dari Singapura sumbangan Palang Merah Malaya (Malaysia) kepada Indonesia ditembak oleh pesawat Belanda di Yogyakarta. Gugur dalam peristiwa ini di antaranya Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dan Komodor Muda Udara Dr. Abdurrahman Saleh. Bagaimana reaksi dunia luar terhadap tindakan Belanda yang melakukan tindakan kekerasan terhadap Indonesia tersebut? Pada tanggal 31 Juli 1947 India dan Australia mengajukan masalah Indonesia- Belanda ini kepada Dewan Keamanan PBB. Dalam Sidang Dewan Keamanan pada tanggal 1 Agustus 1947 dikeluarkan resolusi yang mengajak kedua belah pihak untuk menghentikan tembak menembak, menyelesaikan pertikaian melalui perwasitan (arbitrase) atau dengan cara damai yang lain. Menindaklanjuti ajakan PBB untuk penyelesaian dengan cara damai, maka Republik Indonesia menugaskan Sutan Syahrir dan H. Agus Salim sebagai duta yang berbicara dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Sutan Syahrir menyatakan bahwa untuk mengakhiri konflik antara Indonesia dengan Belanda jalan satu-satunya adalah pembentukan Komisi Pengawas dalam pelaksanaan resolusi Dewan Keamanan. Ditambahkan pula agar Dewan Keamanan menerima usul Australia secara keseluruhan dan penarikan pasukan Belanda ke tempat kedudukan sebelum agresi militer. Usul ini didukung oleh Rusia dan Polandia. Di samping itu Rusia juga mengusulkan pembentukan Komisi Pengawas gencatan senjata.
Usul di atas didukung oleh Amerika Serikat, Australia, Brazilia, Columbia, Polandia, dan Suriah tetapi diveto Perancis, sebab dianggap terlalu menguntungkan Indonesia. Pada tanggal 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan PBB menerima usul Amerika Serikat tentang pembentukan Komisi Jasa-Jasa Baik (Committee of Good Offices) untuk membantu menyelesaikan pertikaian Indonesia-Belanda. Komisi inilah yang kemudian dikenal dengan Komisi Tiga Negara (KTN), yang terdiri atas :
a. Australia (diwakili oleh Richard C. Kirby), atas pilihan Indonesia,
b. Belgia (diwakili oleh Paul Van Zeeland), atas pilihan Belanda,
c. Amerika Serikat (diwakili oleh Dr. Frank Porter Graham), atas pilihan Australia dan Belgia.

Pada tanggal 27 Oktober 1947 KTN tiba di Jakarta untuk melaksanakan tugasnya. Dalam melaksanakan tugasnya, KTN mengalami kesulitan karena Indonesia maupun Belanda tidak mau bertemu di wilayah yang dikuasai pihak lainnya. Akhirnya KTN berhasil mempertemukan Indonesia-Belanda dalam suatu perundingan yang berlangsung pada tanggal 8 Desember 1947 di atas kapal perang Amerika Serikat “Renville” yang berlabuh di teluk Jakarta. Perundingan ini dikenal dengan perundingan Renville. Akibat dari perundingan Renville wilayah Rl semakin sempit dan kehilangan daerah-daerah yang kaya karena diduduki Belanda.

2. Peranan Konferensi Asia dan Resolusi Dewan Keamanan PBB
Aksi militer Belanda tanggal 21 Juli 1947 terhadap Republik Indonesia menimbulkan reaksi dunia luar. Inggris dan Amerika Serikat tidak setuju dengan tindakan Belanda itu, tetapi ragu-ragu turun tangan. Di antara negara yang tampil mendukung Indonesia adalah Autralia dan India. Australia mendukung Indonesia karena ingin menegakkan perdamaian dan keamanan dunia sesuai dengan piagam PBB. Di samping itu Partai Buruh Australia yang sedang berkuasa sangat simpatik terhadap perjuangan kemerdekaan. Sedangkan India mendukung Indonesia karena solidaritas sama-sama bangsa Asia juga senasib karena sebagai bangsa yang menentang penjajahan. Hubungan Indonesia dengan India terjalin baik terbukti pada tahun 1946 Indonesia menawarkan bantuan padi sebanyak 500.000 ton untuk disumbangkan kepada India yang sedang dilanda bahaya kelaparan. Sebaliknya India juga menawarkan benang tenun, alat-alat pertanian, dan mobil. Pada waktu Belanda melakukan aksi militernya yang kedua yakni pada tanggal 19 Desember 1948, Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru dan Perdana Menteri Birma (Myanmar) U Aung San memprakarsai Konferensi Asia. Konferensi ini diselanggarakan di New Delhi dari tanggal 20 - 23 Januari 1949 yang dihadiri oleh utusan dari negara-negara Afganistan, Australia, Burma (Myanmar), Sri Langka, Ethiopia, India, Iran, Iraq, Libanon, Pakistan, Philipina, Saudi Arabia, Suriah dan Yaman. Hadir sebagai peninjau adalah wakil dari negara-negara Cina, Nepal, Selandia Baru, dan Muangthai. Wakil-wakil dari Indonesia yang hadir antara lain Mr. A.A. Maramis, Mr. Utojo, Dr. Surdarsono, H. Rasjidi, dan Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Konferensi Asia tersebut menghasilkan resolusi yang kemudian disampaikan kepada Dewan Keamanan PBB. Isi resolusinya antara lain sebagai berikut.

a. Pengembalian Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta.
b. Pembentukan perintah ad interim yang mempunyai kemerdekaan dalam politik luar negeri, sebelum tanggal 15 Maret 1949;
c. Penarikan tentara Belanda dari seluruh Indonesia
d. Penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Indonesia Serikat paling lambat pada tanggal 1 Januari 1950.
Dengan adanya dukungan dari negara-negara di Asia, Afrika, Arab, dan Australia terhadap Indonesia, maka pada tanggal 28 Januari 1949 Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang disampaikan kepada Indonesia dan Belanda sebagai berikut.
a. Mendesak Belanda untuk segera dan sungguh-sungguh menghentikan seluruh operasi militernya dan mendesak pemerintah RI untuk memerintahkan kesatuan-kesatuan gerilya supaya segera menghentikan aksi gerilya mereka.
b. Mendesak Belanda untuk membebaskan dengan segera tanpa syarat Presiden dan Wakil Presiden beserta tawanan politik yang ditahan sejak 17 Desember 1948 di wilayah RI; pengembalian pemerintahan RI ke Yogyakarta dan membantu pengembalian pegawai-pegawai RI ke Yogyakarta agar mereka dapat menjalankan tugasnya dalam suasana yang benar-benar bebas.
c. Menganjurkan agar RI dan Belanda membuka kembali perundingan atas dasar persetujuan Linggar jati dan Renville, dan terutama berdasarkan pembentukan suatu pemerintah ad interim federal paling lambat tanggal 15 Maret 1949, Pemilihan untuk Dewan Pembuatan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Serikat selambat-Iambatnya pada tanggal l Juli 1949.
d. Sebagai tambahan dari putusan Dewan Keamanan, Komisi Tiga Negara diubah menjadi UNCI (United Nations Commission for Indonesia = Komisi PBB untuk Indonesia dengan kekuasaan yang lebih besar dan dengan hak mengambil keputusan yang mengikat atas dasar mayoritas. Tugas UNCI adalah membantu melancarkan perundingan-perundingan untuk mengurus pengembalian kekuasaan pemerintah Republik; untuk mengamati pemilihan dan berhak memajukan usul-usul mengenai berbagai hal yang dapat membantu tercapainya penyelesaian.


Resolusi itu dirasa oleh bangsa Indonesia masih ada kekurangan yakni bahwa Dewan Keamanan PBB tidak mendesak Belanda untuk mengosongkan daerah-daerah RI selain Yogyakarta. Di samping itu Dewan Keamanan tidak memberikan sanksi atas pelanggaran terhadap resolusinya. Akan tetapi, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang cinta damai maka selalu menaati semua isi resolusi sepanjang sesuai dengan prinsip Indonesia Merdeka dan sikap berperang untuk mempertahankan diri.

Senin, 18 Mei 2015

makalah ngeunaan biantara

0

PANGJAJAsP
Puji syukur nu nulis panjatkeun ka kahadirat Allah SWT. Yen nu nulis tos ngabereskeun ieu tugas makalah biantara.
Mugi materi ieu tiasa masihan mangpaat sarta jadi sumbangan pamikiran pikeun pihak anu merlukeun, hususna pikeun nu nulis ku kituna tujuan anu diharepkeun bisa kahontal, Amin
Hapunten bilih aya kalepatan dina panulisan, nu nulis nyadar yen tugas biantara ieu masih langkung tina kata sempurna.
Hatur nuhun..








                                                                                                              


                                                                                                                      Nu nyusun




DAFTAR EUSI
­­­BAB I BUBUKA
1.1 KASANG TUKANG MASALAH  ..………………………………………     3
1.2 WATESAN MASALAH   .…………………………………………………     3
1.3 RUMUSAN MASALAH   ……….…………………………………………    3
1.4 MAKSUD JEUNG TUJUAN   .……………………………………………      3
BAB II EUSI
2.1 WANGENAN BIANTARA     ………………………………………………   4         
2.2 TUJUAN BIANTARA     …………………………………………………...    4
2.3 PADIKA BIANTARA     ……………………………………………………   5
2.4 WANDA BIANTARA     ……………………………………………………   8
2.5 CARANGKA BIANTARA   ………………………………………………..   9
2.6 UNSUR UNSUR DINA BIANTARA   …………………………………….   11
BAB III PANUTUP
3.1 KAWINDEKAN   ……………………...…………………………………….  13
3.2 SARAN   ……………………………………………………………………..   14
DAFTAR PUSTAKA   ………………………………………………………….    15
BAB I
­­BUBUKA
1.1 KASANG TUKANG MASALAH
Biantar sok dianggap pangajaran nu teu dipika resep ku siwsa, sabab siswa kurang parigel néangan ide jeung kecap-kecap kunu variatif dina ngarang, siswa ogé kurang parigél dina ngalarapkeun éjahan sarta kurang parigél dina matalikeun unggal kalimah ti mimiti nepi katungtung sangkan nyiptakeun tulisan nu merenah tur mibanda harti jeung maksud.
Sangkan bisa nyebutkeun struktur teks biantara, bisa ngaidéntifi kasi struktur teks biantara nu nyampak dina téks, bisa ngaanalisis aspék-aspék kabasaan nu nyampak dina teks biantara, bisa nyusun téks biantara sorangan kalawan ngagunakeun basa Sunda anu merenah, mikapaham padika nepikeun biantara, sarta bisa ngagalantangkeun biantara di hareupeun kelas kalawan ngagunakeun sora, lentong, jeung wirahma anu merenah.

1.2 WATESAN MASALAH
 Dumasar dina kasang tukang masalah diluhur sangkan bias nulis biantara jeung ngabacakeun biantara nu atos dijieun sateu acana supados apal wangenan biantara

1.3 RUMUSAN MASALAH
·         wangenan biantara teh naon ?
·         Tujuan Biantara teh naon ?
·         Padika Biantara teh naon ?
·         Gunana biantara the keur naon ?
·         Carangka Biantara the nu kumaha?
·         Jeung unsur unsur dina biantara the naon wae ?

1.4 MAKSUD JEUNG TUJUAN
Saluyu jeung kasang tukang masalah,rumussan masalah yen tujuan the pikeun
·         Ngajeulaskeun wangenan biantara
·         Ngajelaskeun Tujuan Biantara
·         Ngajeulaskeun Padika Biantara
·         Ngajeulaskeun Gunana biantara
·         Ngajeulaskeun carangka biantara
·         Ngajeulaskeun Unsur-unsur dina Biantara


BAB II
EUSI
2.1    Wangenan Biantara
Biantara atawa pidato téh nyarita di hareupeun balaréa dina raraga nepikeun informasi atawa hal-hal nu kaitung penting dipikanyaho ku batur, bisa mangrupa sambutan, pangarahan atawa panyuluhan anusipatna monolgis, ukur diréspon ku unggeuk/gideg, keprok, jeung pasemon. Biantara anu saé ngagaduhan éfék positif kanu ngaregepkeun atawa ngadangukeun éta biantara. Jalma nu ahli biantara disebutna orator.

2.2     Tujuan Biantara
1.      Informatif
Nya éta méré hiji pamahaman atawa informasi ka batur.Urang tiasa ngadugikeun informasi anu nuju haneut jeung janten bahan omongan di masyarakat kanggo ka pirsawan.
2.      Argumentatif
Maksudna, urang tiasa ngayakinkeun jalmi kana hal anu nujudicarioskeun dina bianatara urang jeung pirsawan tiasa yakin kana cariosan urang.
3.      Persuasif jeung Instruktif
Nya éta mangaruhan batur ambéh daék nuturkeun kahayang urang tur sukaréla. Tujuan ieu sami sareng tujuan arguméntatif, sanajan kitu anu ngabédakeuna mah nya éta inténsitasna. Tujuanbiantara ieu leuwih digunakeun kanggé ngagugah sareng ngagerakkeun pirsawan kanggé ngalakukeun hal anu dicarioskeun dina biantara.
4.      Entertaint atawa Rekreatif
Nya éta biantara anu nyieun pirsawan gumbira jeung ngahibur, ku kituna pirsawan gumbira sarta sugema ngupingkeun anu ku urang diungkapkeun. Tujuan biantara ieu sanés saukur kanggényieun  pirsawan  gumujeng  nepi ka pipingkelan. Sanajan kitu, ieu gé kedah nyieun anu ngadangukeun ngartos kanu naon-naon nu ku urang dicarioskeun. Salian  kanggé  anu ngadangukeun gumbirajeung gumujeng, émosi maranéhna kabawakeun  kana suasana biantara anu ku urang dibawakeun

2.3     Padika Biantara
1.      Serta Merta (Impromptu)
Nya éta mawakeun biantara tanpa persiapan sarta ngan ngandelkeun pangalaman sarta wawasan. Biasana dina kaayaan darurat loba ngagunakeun métode sarta merta. Métode ieu hésédilakonan upami urang jalmi anu teu gaduh pangalaman dina bidang biantara, bisa-bisa nuju urang di hareupeun pirsawan, urang kalah janten blank atanapi urang janten hilap naon  wae anu kedah ku urang carioskeun. Aya sababaraha hiji kauntunganana :
a.       Leuwih ungkapkeun rarasaan orator anu sabenerna,kusabab orator teu aya kasempetan kanggo mikirkeun naon-naon anu badé didugikeun.
b.      Gagasan anu spontan janten katingalina téh siga seger sareng hirup.
c.       Ngajadikeun orator terus mikir.
Aya ogé karugiananana nya éta  :
a.       Tiasa janten kasimpulan anu atah kusabab dasar élmu anu henteu memadai.
b.      Ngakibatkeun cara nyarios anu henteu lancar sareng seueur eureun.
c.       Biasana gagasan anu didugikeun tiasa acak-acakan jeung ngawur.
d.      Orator tiasa wae jadi geumpeur (demam panggung).
2.      Ngapalkeun (memoriter)
Nya éta nyieun hiji rencana biantara tuluy ngapalkeunana kecap per kecap. Métode ieu  bakal  saé pisan upami urang gaduhémutan anu saé jeung biantara anu ku urang didugikeun henteu panjang. Sanajan kitu, upami urang sok kadang hilap jeung biantara anu ku urang dugikeun téh rada panjang, aya saéna métode ieu teu kedah digunakeun. Kusabab, upami urang hilap ditengah-tengah biantara urang, urang téh bakal hésé deui ngalanjutkeunna.Kauntungan métode ieu nya éta  :
a.       Kecap anu dipilih kedah leres kusabab aya persiapan anu saé.
b.      Upami tiasa ngapalkeunana, biantarana bakal lancar.
c.       Gerak jeung  isyarat anu diintegrasikeun ku cara uraian.
Karugiana ngagunakeun métode ieu nya éta   :
a.       Biantara katingali datar sareng bosen, nepi ka oratormoal tiasa narik perhatosan pirsawan.
b.      Komunikasi pirsawan anu janten sababorator ngalih kanu  usaha kanggo ngingetan kecap.
c.       Kedah ayana persiapan anu seueur.
3.      Maca naskah (manuscrip)
Ku cara ngagunakeun atanapi maca naskah waktos biantara.Métode ieu nya éta biantara kalayan ngagunakeun naskah anu geus dijieun saméméhna sarta umumna dipaké dina biantara-biantara resmi. Sareng teu kénging aya kalepatan kecap atanapi dina cara ngadugikeunna. Baheula mah biantara téh ditulis atawa diketik dina kertas (tiasa di kertas anu ukuranna katingali atawa dina kertas anu ukuranna leuwih leutik anu tiasa di sumputkeun jeung teu katingali). Sanajan kitu, kusabab kamajuan téknologi ayeuna mah tos benten sareng baheula, kitu ogé dina macakeun biantara ayeuna mah ngagunakeun tablet PC atanapi alat anu tos canggih.Kauntungananana :
a.       Kecap-kecap anu pilih sasaé-saéna nepi ka janten tiasa ngadugikeun hartos anu leres sareng pernyatanana janten tétéla.
b.      Pernyataan tiasa dihémat kusabab manuskrip tiasa disusun deui.
c.       Kalancaran nyarios kahontal kusabab kecapna atos disiapkeun.
d.      Hal-hal anu ngawur atanapi pasalia tiasa dihindari.
e.       Manuskrip tiasa  diterbitkan atau diseueuran.

Aya ogé karugiananana :
a.       Komunikasi pirsawan tiasa janten ngurangan kusabab  orator henteu nyarios langsung kanggo ka maranéhna.
b.      Orator henteu tiasa ningali pirsawan kusabab manéhna leuwih konséntrasi kana naskah biantara, nepi ka kalengitan gerak jeung janten kaku
c.       Réspon ti pirsawan henteu tiasa ngarobih, mondokan atawa manjangan papatah.
d.      Prosés ngajieunna leuwih lami.
4.      Ekstemporan
Nya éta ku cara nyandak poko-poko cariosan anu badédidugikeun. Métode ieu nya éta   métode anu lumayan saé jeung gampil digunakeun, urang ngan saukur  nyandak poin atau poko-poko pasoalan anu kedah didugikeun jeung urang ngan saukur kedah  berimprovisasi salila urang ngadugikeun eusi biantara. Ieu  mangrupikeun  salah sahiji métode biantara anu leres lantaran ieu leuwih variatif jeung henteu ningali waé kana naskah. Kauntungan ngagunakeun métode ieu nya éta:
a.       Komunikasi anu gadangukeun jeung yarios leuwih  saé kusabab anu nyarios tiasa nyarios langsung ka anu ngadangukeun
b.      Papatah tiasa fléksibel kanggé diubah sesuai sareng kabutuhan jeung panyajianana leuwih spontan.
Karugian ngagunakeun métode ieu ge aya nya éta  :
a.       Kedah latihan anu intensif kanggo nu nyarios.
b.      Aya kemungkinan pasalia tina garis besar
c.       Kalancaran nyarios kahambat kusabab héséna milih kecap-kecap.



2.4    Wanda Biantara
1.      Ceramah
Nya éta biantara anu tujuanna keur mapatahan atawa masihan naséhat kanu ngadangukeun. Ceramah tiasa dilaksanakeun iraha waé teu aya rukun sareng saratna, teu gaduh tempat husus kanggo pelaksanaanna, waktuna teu aya watesan jeung saha waé tiasa dakwah. Ceramah ogé tiasa dilaksanakeun ku cara anu kreatif sarenginovatif supaya teu matak bosen. Contona: seminar, lokakarya, saraséhan, jsb.
Ceramah dibagi jadi dua rupa, nya éta:
a.       Ceramah umum, nya éta ceramah anu ditujukeun keur sakabéh masarakat anu sipatna maluruh teu ngabédakeun umur, jabatan jeung matérina gé teu ditangtukeun.
b.      Ceramah husus, nya éta ceramah anu ditujukeun ka sabagian kelompok anu sipatna husus, nu ngadangukeun jeung materina ge disaluyukeun jeung acara. Contona dina raraga mépéling acara Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, jeung acara-acara anu biasa dilakukeun ku umat muslim.
2.      Pamapag/sambutan
Nya éta biantara anu ditepikeun dina hiji acara kagiatan atawa kajadian nu tangtu anu bisa dipigawé ku sawatara urang jeung wayah anu kawates sacara gunta-ganti.
3.      Pedaran/bahasan hiji pasualan
Nya éta biantara anu eusina ngajéntrékeun tur medar hiji objék, prosésna, tujuanana jeung gunana nu ditujukeun pikeun ngajembaran pangaweruh anu ngadangukeun.
4.      Natar (up grading)
Dina perkawis organisasi nya éta kanggo ngaronjatkeun mutu organisasi sareng anggotana. Salian ti éta, sacara normatif up gradingdilaksanakeun supados saban pangurus, utamana jajap angkatan jadi silih mikawanoh.
5.      Laporan
Nya éta biantara anu eusina nyaéta ngalaporkeun hiji pancén atawa kagiatan.
6.      Kampanyeu/propaganda
Kampanye nya éta biantara anu tujuanna meunangkeun pencapaian pangrojong, usaha kampanye tiasa dipigawé ku perorangan atawa sakelompok jalmi anu terorganisir kanggo ngalakukeun pencapaian prosés ngajieun kaputusan dina hiji jumplukan, kampanye biasa ogé dipigawé guna mangaruhan, ngahambat, ngabelokeun pencapaian.

E.     Guna Biantara
1.      Pikeun nepikeun rupaning kapentingan/maksud.
2.      Ngaronjatkeun ajen diri
3.      Ngarojong Leadership
4.      Jadi puseur paniten masarakat, dihormat jeung dihargaan.
F.      Persiapan Biantara
Saméméh méré biantara di hareup umum, aya saéna pikeun ngalakonan persiapan di handap ieu:
1.      Nyaho wawasan anu ngadangukeun biantara sacara umum
2.      Nyaho lilana wayah atawa durasi biantara anu baris dibawakeun
3.      Nyusun kecap-kecap anu gampang dipahaman sarta jelas
4.      Nyaho jenis biantara sarta téma acara.
5.      Nyiapkeun bahan-bahan sarta perlengkapan biantara

2.5    Carangka Biantara
1.      Bubuka
Bubuka dina biantara diwangun ku sababaraha unsur, nya éta :
a.    Salam bubuka
Salam ieu teh bisa ku ngucapkeun Assalamu’alaikum wr.wb. (pikeun umat Islam), atawa bisa ku ngucapkeun salamna urang Sunda nya éta  Sampurasun.
b.    Puji sinareng sukur ka Alloh swt. sareng shalawat ka Kanjeng Nabi Muhammad saw.
c.    Ucapan hormat ka para inohong.
d.   Ucapan hormat ka pirsawan.
2.      Eusi
Eusi biantara téh mangrupakeun bagéan anu pangpentingna dina biantara. Eusi biantara téh diwengku (diwangun) ku tilu perkara,nya éta :
a.    Pedaran
Bagéan ieu eusina perkara naon waé anu rék ditepikeun ka pirsawan, biasana dumasar kana tujuan biantara.
b.    Cindekna
Mangrupa kacindekan tina pedaran anu geus ditepikeun.
c.    Anjuran
   Dina bagéan ieu ditepikeun anjuran atawa harepan ti nu biantara ka pirsawan, utamana raket patalina jeung eusi pedaran.
3.      Panutup
Panutup biantara nya éta  bagéan anu nétélakeun yén biantara téh geus réngsé. Panutup biantara diwangun ku sababaraha perkara,nya éta :
a.    Nganuhunkeun kana perhatosan pirsawan.
b.    Ménta dihampura tina kakurangan nu aya dina biantara.
c.    Du’a
d.   Salam panutup.

2.6    Unsur-unsur dina Biantara
1.      Orator (nu nepikeun biantara)
Salah sahiji perkara anu kudu diperhatikeun ku orator téh salian ti bahan-bahan keur biantara nya éta  dangdanan atawa pakéan keur biantara. Kaayaan pakéan éta téh mangaruhan kana ajén hasil biantara. Aya sababaraha perkara ngeunaan pakéan anu kudu diperhatikeun ku urang lamun rék ngalakonan biantara, nya éta :
a.    Pakéan misti saluyu jeung kaayaan.
b.    Pakéan misti saluyu jeung pirsawan.
c.    Pakéan misti saluyu jeung maksud carita (sumanget, jste.).
d.   Pakéan misti merenah jeung sopan.
e.    Pakéan misti nambah komara jeung mawa simpatik.
2.      Bahan Biantara
Aya tilu tahapan nu ku urang kudu dilakonan dina nyiapkeun bahan (matéri) biantara, nya éta :
a.    Nyusun carangka biantara (garis besar)
b.    Ngumpulkeun bahan pikeun eusi biantara, boh tina pangalaman, bacaan, jste.
c.    Nulis naskah biantara salengkepna.
Sajaba ti éta, aya ogé sababaraha perkara anu bisa dijadikeun dadasar pikeun urang dina nyusun naskah biantara, nya éta :
a.    Tujuan biantara.
b.    Kasang tukang pirsawan, nya éta  umurna, agamana, tingkat pangaweruhna, pacabakan kasabna, kamasarakatana, kalangenannana (hobi) jste.
c.    Harepan pirsawan nu patali jeung biantara.
d.   Kajadian naon nu anyar di masarakat (lingkungan) pirsawan.
e.    Sipat hadé pirsawan nu nyongcolang, jrrd.
3.      Pirsawan
Pirsawan teh nya éta  kaum dangu anu ngdangukeun biantara urang. Lamun teu aya pirsawan atanapi kaum dangu, tangtu tujuan tina biantara teh moal laksana. Di dieu baris dijelaskeun sababaraha hal anu aya patalina jeung cara ngatur pirsawan, nya éta:
a.    Pirsawan misti ngumpul (teu bacacar) jeung deukueut ka nu biantara.
b.    Pirsawan misti ningali ka nu biantara (teu kahalangan panitena).
c.    Pirsawan nu jadi tuju kecap sina di hareup.
d.   Pirsawan misti rada anggang (carang) jeung papadana lamun urang ngaharepkeun pirsawan wanian.
e.    Pirsawan misti pagégéyé lamun urang ngaharepkeun pirsawan tumut kana eusi biantara.
f.     Pirsawan misti sina di nu poék lamun rék disugésti kuat.
g.    Pirsawan nu jadi tuju kecap sina di hareup, jrrd.
Tilu unsur nu geus dijelaskeun di luhur kacida pentingna dina biantara, sabab unsur-unsur éta téh silih pangaruhan. Lamun aya unsur nu leungit tangtu biantara téh moal laksana.
          
BAB III
PANUTUP

3.1    Kawindekan
1.      Biantara atawa pidato téh nyarita di hareupeun balaréa dina raraga nepikeun informasi atawa hal-hal nu kaitung penting dipikanyaho ku batur, bisa mangrupa sambutan, pangarahan atawa panyuluhan anusipatna monolgis, ukur diréspon ku unggeuk/gideg, keprok, jeung pasemon. Biantara anu saé ngagaduhan éfék positif kanu ngaregepkeun atawa ngadangukeun éta biantara. Jalma nu ahli biantara disebutna orator.
2.      Tujuan biantara aya opat, nya éta (1) Informatif, (2) Argumentatif, (3)Persuasif jeung Instruktif, sarta (4) Entertaint atawa Rekreatif.
3.      Padika biantara ogé aya opat, nya éta: (1) Serta merta (Impromptu), (2) Ngapalkeun (Memoriter), (3) Maca naskah (Manuscip), jeung (4)Ekstemporan.
4.      Biantara mibanda sababaraha wanda, diantarana: (1) Ceramah, (2) Pamapag/Sambutan, (3) Pedaran/bahasan hiji pasualan, (4) Natar (up grading), (5) Laporan, jeung (6) Kampanyeu atawa Propaganda.
5.      Guna biantara diantarna: (1) Pikeun nepikeun rupaning kapentingan/maksud, (2) Ngaronjatkeun ajen diri, (3) Ngarojong Leadership, jeung (4) Jadi puseur paniten masarakat, dihormat jeung dihargaan.
6.      Saméméh méré biantara di hareup umum, aya saéna pikeun ngalakonan persiapan, saperti: (1) Nyaho wawasan anu ngadangukeun biantara sacara umum, (2) Nyaho lilana wayah atawa durasi biantara anu baris dibawakeun, (3) Nyusun kecap-kecap anu gampang dipahaman sarta jelas, (4) Nyaho jenis biantara sarta téma acara, jeung (5) Nyiapkeun bahan-bahan sarta perlengkapan biantara.
7.      Carangka biantara dibagi tilu, nya éta: (1) Bubuka, (2) Eusi, jeung (3) Panutup.
8.      Biantara mianda sababaraha unsur penting, diantarana: (1) Orator, (2) Bahan biantara, jeung (3) Pirsawan.
9.      Ciri biantara nu bener tu hadé diantara: (1) Kudu tétéla, (2) Kudu matak simpatik, (3) Kudu ngayakinkeun Pirsawan, (4) Kudu lawas dipiéling ku pirsawan, jeung (5) Kudu éndah.
10.  Aya sababaraha strategi anu tiasa digunakeun kanggo ngajar biantara di SD, diantarana: (1) Kaulinan simulasi, (2) Stratégi Modeling the Way, (3) Midangkeun informasi, jeung (4) Laporan lisan.

3.2     Saran
Biantara téh mangrupakeun kaparigelan anu kacida pentingna. Salian ti kudu bisa ngajarkeun biantara ka barudak SD pikeun ngalatih rasa percaya ka diri sorangan. Urang salaku guru gé kudu bisa ahli dina Biantara sabab guru téh sok jadi kapercayaan masarakat dina mingpin atawa ngalakonan hiji acara anu merlukeun kaparigelan ngobrol di hareupen jalma loba. Biantara ogé tiasa ningkatkeun kamampuan bahasa sunda anu leres sareng saé.




DAFTAR PUSTAKA



Senin, 06 April 2015

SOAL TENTANG TEKNIK BLURRING

0

Soal !
1 . Pengertian teknik Bluring !
2 . Cara pengambilan gambar dengan kamera dengan menggunakan teknik Blurring !
3 . Cara mengedit photo dengan teknik Blurring dengan menggunakan photoshop !
4 . Contoh teknik Blurring !

* Jawab *
1 . Memotret gerak dengan kecepatan rana cukup lambat namun tidak dengan menggerakkan menggerakkan kamera. Tujuan dari teknik ini adalah menangkap momen bergerak sehingga yang bergerak menjadi blur tetapi latar belakang atau ada obyek yang tidak sepenuhnya blur.
2 . -  Nilai aperture menunjukkan seberapa banyak cahaya dapat melewati.Karena itu dinyatakan sebagai f/2.8, f/16, dll, aperture juga disebut “F angka.” F / 1 mewakili nilai bukaan maksimum. Ketika bukaan menjadi setengahnya, hal itu disebutF/2, Ketika seperempat dari ukuran bukaan penuh, itu adalah F / 4. Hal ini akan berpengaruh pada ruang tajam (dept of field) pada foto yang kita ambil. DOF secara sederhana dapat diartikan sebagai ruang ketajaman atau ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Dalam istilah fotografi, dikenal dua jenis DOF, DOF lebar dan DOF sempit.
1. DOF Lebar, berarti sebagian besar obyek foto, baik obyek foto terdekat dari kamera sampai obyek terjauh akan fokus/tajam.
2. DOF Sempit, berarti titik fokus/tajam hanya akan ada pada bagian obyek tertentu, sedangkan sisanya blur/tidak fokus.
- APERTURE Aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto. Jadi, saat kita menekan shutter lubang di depan sensor kamera akan terbuka, settingan aperture inilah yang mengatur besar kecil bukaan tersebut.
1. Semakin kecil angka ” f ” (f 1.8, f2, dsb) berarti semakin besar lubang diafragmanya dan semakin banyak volume cahaya yang masuk, lalu DOF akan semakin sempit
2. Semakin besar angka “f” (f 8, f 22, dsb) berarti semakin kecil lubang diafragmanya, semakin sedikit volume cahaya yang masuk, lalu DOF akan semakin lebar.

3 . 1. Siapkan photo yang ada latar pemandangan (bebas)
nida Membuat latar photo menjadi blur dengan photoshop
[sociallocker id="2985"]
2. Jadikan Auto Color dengan menekan Shift+Ctrl+B (supaya menyesuiakan warna dan cahayanya) , dan tambahkan curves dengan menakan Ctrl+M, naikan diagramnya ke arah putih. maka photo akan terlihat cerah.
nida2 Membuat latar photo menjadi blur dengan photoshop
3. Duplikat layer dengan menekan Ctrl+J
nida3 Membuat latar photo menjadi blur dengan photoshop
4. Pada Layer duplikat (Layer 1) tambahkan efek blur, Filter -> Blur -> Gaussian blur, atur besar radiusnya, semakin tinggi semakin nge blur.
nida4 Membuat latar photo menjadi blur dengan photoshop
nida5 Membuat latar photo menjadi blur dengan photoshop
5. Masih di layer duplikat (layer 1) tambahkan Add Layer Mask, atur warnanya dengan hitam.
nida6 Membuat latar photo menjadi blur dengan photoshop
6. lanjutkan dengan memilih Brush Tool, bagi yang tidak tahu klik cara menggunakan Brush Tool , Gosokan brush pada Layer Mask di daerah objek (orang), trik ini bertujuan untuk mengahpus objek yang tadi d blur, karena yang kita inginkan ngeblur adalah Latar.
nida7 Membuat latar photo menjadi blur dengan photoshop
Hasil penghapusan seperti ini,


Kamis, 02 April 2015

Syndrom Pinocchio

0




Dalam drama korea " Pinocchio " Shin Hye yang berperan sebagai seorang gadis yang akan mengalami cegukan setiap kali ia berbohong. Baik saat menelepon maupun cuma menuliskan pesan teks, si penderita akan langsung cegukan jika ia mengutarakan hal yang tidak benar. Cegukan itu baru akan terhenti bila ia mengutarakan hal yang sebenarnya.

Namun, apakah sindrom tersebut memang benar-benar ada?Istilah sindrom pinocchio memang nyatanya bukan ditujukan untuk kondisi seseorang yang cegukan ketika berbohong. Di sisi lain, sindrom pinokio merupakan sebuah kondisi saat tubuh seseorang merasa kaku bak boneka kayu. Hal tersebut terjadi lantaran si penderita merasa ketakutan bila ditertawakan orang. Kondisi tersebut merupakan sebuah fobia yakni gelatophobia yang penderita akan merasa tidak nyaman dan ketakutan bila ditertawakan orang lain.

Fobia ini termasuk fobia sosial yang menarik perhatian para psikolog, sosiolog, dan psikiater sejak 2008. Seperti dikutip dari Wikipedia, Dr Michael Titze menemukan beberapa pasiennya mengalami fobia tersebut cenderung selalu menganalisis lingkungan yang akan mereka masuki. Apakah banyak orang yang humoris dan suka menertawakan orang lain. Bahkan, tidak sedikit yang malah merasa diri mereka merupakan pribadi yang bodoh.Saat mereka ketakukan itulah, tubuh mereka akan terasa kaku hingga terlihat seperti boneka kayu saat bergerak. Kondisi tubuh itulah yang dinamai sindrom pinocchio.